Gouvemementsgebouw
(Gedong Sate) merupakan bangunan arsitektur yang unik dan monumental.
Suatu karya sintesa yang harmonis, memadukan teknik konstruksi Barat
dengan gaya arsitektur lokal".
Dr. H.P. Berlage, 1923.
Bermula dengan kedatangan arsitek Ir. Ben van Leerdam di Bandung, pada
pertengahan tahun 1988 yang lalu. Pak Leerdam yang Indo Belanda
kelahiran Surabaya itu, menjabat dosen pada Fakultas Teknik di Delft,
Negeri Belanda. Kedatangannya ke Bandung, sengaja untuk napak tilas
peri kehidupan Ir. Henri Maclaine Pont, yakni arsitek perancang
bangunan utama Kampus ITB.
Pada kesempatan ngobrol santai dengan penulis, Pak Leerdam mengimbau:
"Cobalah, selidiki kembali segala sesuatunya tentang Gedong Sate! Masih
banyak hal yang saya sangsikan, terutama tentang siapa arsitek
perancang bangunan tersebut". "Jadi jangan lupa! Tolong, selidiki lagi
Gedong Sate beserta arsiteknya!", pesan Pak Leerdam, sebelum pulang
mudik ke Nederland.
Nah, dart sinilah kita mulai melaksanakan order Pak Leerdam, untuk
meneliti kembali bangunan warisan kolonial yang antik dan menarik itu.
Menurut Prof.Dr. Sartono Kartodirjo, Guru Besar sejarah di Universitas
Gajah Mada, kendala utama yang menghambat penelitian sejarah di
Indonesia adalah, langkanya bahan referensi dan nara sumber yang
otentik. Belum lagi masalah metodologi sejarah, penguasaan bahasa
asing, kemampuan menganalisis secara kritis, berpikir secara
multidimensional dan persyaratan lainnya yang harus mahir dimiliki oleh
seorang peneliti.
Memang benar, kesulitan utama yang dihadapi dalam penelitian
bangunan-bangunan kolonial di Bandung adalah, sulitnya bahan tertulis
yang dapat dijadikan sumber penelaahan. Akibatnya banyak ditemukan
dongeng yang berbaur dengan fakta kenyataan.
Maka dalam kasus Gedong Sate, timbullah cerita-cerita misterius yang patut disangsikan.
Kesangsian pertama, menyangkut arsitek perancang Gedong Sate,
sebagaimana dipertanyakan oleh Ben van Leerdam. Benarkan arsiteknya Ir.
J. Gerber?
Konon ceritanya, sebelum Gerber menginjakkan kaki di bumi Nusantara
ini, is sempat mampir di Thailand (Siam). Sehingga ornamen gaya negeri
gajah putih itu, menempel di atas pintu depan Gedong Sate. Ada pendapat
dart seorang Austria yang kini tinggal di Bandung, yang menyatakan
bahwa Gedong Sate dirancang oleh seorang arsitek berkebangsaan Austria.
Bukan arsitek J. Gerber yang berkebangsaan Belanda.
Benarkah, Gedong Sate merupakan bangunan pertama di Bandung yang menggunakan beton bertulang?
Sosok bangunan utama Gedong Sate yang gigantis dan monumental itu,
menurut majalah "Oesterreichs Bau Und Werkunst", Wien (1924), banyak
diilhami oleh keanggunan Candi Borobudur. Benarkah itu?
Kemudian dari mana datangnya batu-batu besar ukuran 1 x 1 x 2 meter
kubik yang menjadi bagian kaki dan alas bangunan Gedong Sate? Lalu
siapa yang mengukir dan mengerjakan batu alam tersebut?
Demikian beberapa hal yang disangsikan dan dipertanyakan sekitar arsitektur bangunan Gedong Sate.
Arsitektur Bangunan Gedong Sate
Memang benar dan tidak mengada-ada, bila Tuan D. Ruhl menyatakan dalam
buku "Bandoeng en hoar Hoogvlakte" (1952) bahwa, Gedong Sate adalah
"Het mooiste gebouw van Indonesie" (Bangunan terindah di Indonesia).
Bahkan master arsitek Belanda, Dr. H. P. Berlage menyebut rancangan
kompleks Gouvemementsbedryven (G.B) alias Gedong Sate sekarang, sebagai
suatu karya arsitektur yang besar.
"Gedung ini mengingatkan pada gaya arsitektur Italia di masa
renaissance, terutama bangunan sayap barat. Sedangkan menara bertingkat
di tengah bangunan, mirip atap meru atau pagoda. Ungkapan arsitektur
yang berhasil memadukan (sintesa) langgam Timur dan Barat secara
harmonis", komentar Berlage, sewaktu is meninjau Gedong Sate di bulan
April 1923.
"Bangunan Gedong Sate tergolong karya arsitektur yang utuh dan khas",
kata arsitek Slamet Wirasonjaya. Gaya arsitektur bangunan ini bukan
eklitis (gaya campuran), seperti bangunan Capitol Hill di Washington,
kata Pak Slamet pula.
Pokoknya, Gedong Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona,
serta memiliki gaya arsitektur yang unik, ungkap Cor Passchier dan Jan
Wittenberg, dua arsitek Belanda yang lagi tekun mendaftar bangunan
kolonial di Kota Bandung.
Menurut mereka, langgam arsitektur Gedong Sate, merupakan gaya
eksperimen dari Sang Arsitek yang mengarah kepada bentuk
Indo-Europeeschen architectuur stet ("Gaya Arsitektur Indo Eropa").
Masih menurut Slamet Wirasonjaya, agaknya bangunan pertama di Kota
Bandung yang menggunakan beton bertulang, adalah gedung Javasche Bank
("B.I") di Jl. Braga. Jadi bukan bangunan Gedong Sate yang peletakan
batu pertamanya jatuh pada tanggal 27 Juli 1920.
Beberapa catatan menunjukkan, bahwa konstruksi beton bertulang bare
mulai digunakan di Indonesia sekitar tahun 1925. Sedangkan di Kota
Bandung barn lazim digunakan setelah tahun 1930-an. Sedangkan jembatan
beton bertulang yang pertama di Bandung, terletak di Jl. ABC,
membentang di atas Sungai Cikapundung (lihat Majalah, "Locale
Techniek", 1938). Hampir semua jembatan beton di atas Cikapundung,
dibangun setelah tahun 1930.
Sebagaimana dinyatakan oleh arsitek Cor Passchier, gaya arsitektur
Gedong Sate merupakan pencarian bentuk atau langgam baru yang memadukan
wajah Timur dan Barat, ditopang teknik konstruksi yang maju dari Negeri
Barat. Jadi tidak mustahil bahwa keanggunan Candi Borobudur ikut
mewarnai Gedong Sate.
Adapun kepingan-kepingan batu ukuran besar, diambil dari perbukitan
Arca Manik. Diusung lewat "kereta gantung" (cable car) yang menuruni
perbukitan Bandung Utara, sampai ke lokasi pembangunan. Di zaman Jepang
beberapa menara baja, sisa lintasan cable car ini masih dapat ditemui
di daerah Sadangserang.
Menurut penuturan Pak Sutarya Abdulgani, pribumi ash daerah Simpang
Dago; kuli penggarap pembangunan Gedong Sate, sebagian terdiri dari
orang-orang Cina, para pengukir dan pemahat bongpay (batu nisan) dari
Hongkong. Selebihnya, adalah tukang batu, kuli aduk dan peladen dari
kampung Sekeloa, Coblong, Dago, Gandok dan Ciba-rengkok. Mereka adalah
para pekerja bangunan yang berpengalaman menggarap Gedong Sirap (Kampus
ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota). Sampai kini, penduduk kawasan
Bandung Utara tersebut, turun temurun secara tradisional menjadi tukang
tembok, tukang kayu dan pekerja bangunan yang trampil.
temuan barn Ir. Ben van Leerdam dari turnpukan arsip surat
korespondensi mendiang l Ir. Maclaine Pont (arsitek perancang bangunan
induk Kampus ITB) menunjukkan, bahwa seorang arsitek berinisial "G" di
Bandung, telah lama menjalin hubungan konsultasi tentang artsitektur.
Besar kemungkinan, bahwa arsitek berinisial "G" adalah Ir.J.Gerber.
Yang pada awal kedatangannya di Nusantara ini, lagi asyik dan tekun
mencari gaya dan bentuk arsitektur yang konstektual, cocok dan serasi
dengan lingkungan (Indonesia) yang beriklim tropis.
Sebagaimana diketahui, Ir. Maclaine Pont yang kritis terhadap kebijakan
pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, tercatat bersama Ir. Thomas
Karsten, sebagai pelopor aliran gaya arsitektur Indo Eropa yang unik
itu. Dan Ir. J. Gerber adalah arsitek yang termasuk dalam kubu Maclaine
Pont.
Karya arsitektur J. Gerber di Surabaya, dalam bentuk bangunan sekolah
HBS (kini SMAN I Jl. Wijayakusuma), memperlihatkan persamaan dengan
gaya bangunan Gedong Sate. Hal ini membuktikan bahwa ide rancangan
Gedong Sate, secara dominan merupakan kreasi J. Gerber.
Adapun kemiripan bentuk pagoda Siam pada lempeng batu di atas pintu
masuk Gedong Sate, semata-mata cuma hiasan yang distylisasi dari bentuk
gerbang Candi Hindu di Jawa, dengan alas pancaran sinar mentari yang
lagi jadi mode di zaman itu. Jadi tak ada hubungan dengan bentuk pagoda
di negeri Siam.
Adapun tentang pendapat warga Austria yang mengaku bahwa Gedong Sate
adalah karya arsitektur bangsanya, maka sebaiknya dikonfirmasikan
kepada yang bersangkutan!
Namun yang jelas, Gedong Sate kini merupakan "ciri" clan "simbol"
daerah Jawa Barat, di samping sebagai land mark wilayah Kota Bandung.
Selain sebagai tontonan wisata, setiap hari Minggu pasangan pengantin
barn, berfoto ria di tempat itu.
Misteri Terungkap
Misteri Terungkap
Misteri yang gelap menyelimuti sejarah Gedong Sate timbul, sehubungan
dengan kesangsian orang tentang siapa arsitek perancangnya yang
sebenarnya. Ada beberapa pihak yang mengaku, bahwa kakek moyangnya ikut
mempunyai andil dalam penciptaan dan perancangan desain Gedong Sate
jaman baheula. Namun bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya?
Apa yang dulu disangsikan dan dipertanyakan oleh arsitek Belanda, Ir.
Ben van Leerdam, tentang arsitek perancang Gedong Sate, akhirnya
terjawab juga di tahun 1995 ini.
Tiba-tiba saja, akhir bulan Maret 1995 yang lalu, telah hadir di Kota
Bandung seorang turis, Ir. R. Heringa, arsitek asal Bloemendaal, Negeri
Belanda. Kedatangannya ke kota ini, dalam rangka napak tilas,
menelusuri kembali kehidupan kakeknya, Ir. F.J.L. Ghijsels. Seorang
arsitek Belanda yang terkenal dari kalangan oude-garde (generasi tua)
yang hidup, berkarya dan mencipta bangunan-bangunan penting di
kota-kota besar Nusantara, jaman kolonial dulu.
Menurut catatan riwayat hidupnya, mendiang arsitek Ir. F.J.L Ghijsels
ini, bersama Ir. H. von Essen serta anemer F. Stolz, pada tahun 1916 di
Batavia telah mendirikan perusahaan Algemeen Ingenieurs en Architecten
bureau (A.I.A) yang terkenal pada masa sebelum perang. Biro A.I.A
kemudian membuka cabang di Surabaya (1927) dan di Bandung (1932) di
bawah pimpinan arsitek F.W. Brinkman dan G.H. Voorhoeve.
Sekedar catatan, salah satu karya rancangan F.W. Brinkman di Bandung
adalah, gedung "Singer" di Prapatan Lima, Jl. Asia Afrika, yang
bangunannya telah dirobohkan orang pada akhir tahun 1992 yang lalu.
Bahkan upaya Menteri KLH Prof. Dr. Emil 3alim untuk menyelamatkan
gedung Singer tersebut, lewat suratnya kepada Gubernur Jawa Barat
tanggal 15 September 1992, ternyata mengalami kegagalan.
Kembali tentang cerita In Ghijsels. Selain ikut mendirikan Biro A.I.A
yang terkenal itu, maka sekitar tahun 1915, sang arsitek ini sempat
bekerja pada Departement van Burgerlyke Openbare Werken (BOW) atau
Departemen Pekerjaan Umum kiwari. Dan kala itu, In Ghijsels ditempatkan
pada Kantoor Gemeentewerken di Bandung.
Menurut keterangan In R. Heringa, sang cucu, selama Opa Ghijsels
tinggal bermukim di Bandung, is bersama tim arsitek Biro A.I.A berhasil
merancang dan merampungkan bangunan "Gedong Sabau" yang ditempati
Departement van Oorlog (DVO) di tahun 1914. Disusul dengan pembangunan
gedung "Theosofische Vereeniging" (1918) di Jl. Banda Bandung. Yang
menarik adalah, bahwa pada tahun 1917, para arsitek dari Biro A.LA di
bawah pimpinan In F. J. L Ghijsels telah mengajukan desain rancangan
pembangunan gedung Gouvernementsbureaux (Jawatan Pemerintah), yang
sedianya akan menempati Gedong Sate sekarang ini. Namun sayang sekali,
rancangan desain bangunan Biro A.I.A yang amat ke barat-baratan gaya
arsitekturnya itu, akhirnya ditolak oleh pemerintah kolonial. Namun ada
juga elemenelemen desainnya yang diambil oleh tim arsitek dari
Landsgebouwendienst (Jawatan Gedung-gedung Nusantara) pimpinan In J.
Gerber yang menggarap rancangan Gedong Sate.
Menurut keterangan yang berhasil dikumpulkan, agaknya, selain para
arsitek dari Landsgebouwendienst dan Biro A.I.A, masih ada lagi tim
atau kelompok arsitek yang menyampaikan pula bestek . "cetak biru",
usul rancangan desain bagi kompleks bangunan Jawatan Pemerintah Pusat
(Gouvernementsbureaux) di Kota Bandung. Sehingga wajar dan tidak
mengherankan, bila di kemudian hari ada pihak-pihak, anak cucu para
arsitek Belanda di Bandung dulu, yang mengklaim bahwa kakek moyangnya
ikut punya andil, merancang desain kompleks perkantoran Jawatan
Pemerintah Pusat di Bandung, yang kini dikenal masyarakat dengan
sebutan "Gedong Sate".
Agar diketahui, bahwa pilihan pemerintah kolonial kala itu, jatuh pada
desain arsitektur karya Ir. J. Gerber dan kelompoknya yang bernuansa
wajah arsitektur tradisional Nusantara, tidak terlepas dari advis
arsitek besar (Maestro Arsitek) dari Negeri Belanda, yakni Dr. Hendrik
Petrus Berlage.
Dalam kunjungan Dr. H.P. Berlage ke Nusantara pada tahun 1923, ia
menulis pada buku catatannya: "... and now Javanese art is threatened
with total destruction, through Western influence" ("... dan kini
kesenian Jawa terancam kehancuran total, akibat pengaruh Barat"). Oleh
karena itu, kata Dr. Berlage: "Bangsa Indonesia harus memiliki gaya dan
langgam arsitekturnya sendiri" (H.P.Berlage, "Myn Indische Reis",
Rotterdam, 1931). Selanjutnya dalam buku H.P. Berlage "Myn Indische
Reis" ("Perjalananku ke Hindia") terbitan tahun 1931 itu, beliau
menulis pula "Kelak kita bakal menyadari, bahwa akan lahir suatu gaya
arsitektur Indonesia-Eropa, yang terwujud dari sintesa perpaduan sistem
struktur bangunan Barat dengan bentuk seni budaya Timur. Dari perpaduan
teknik dan gaya arsitektur seperti itulah, sosok bangunan resmi dapat
dikembangkan".
Jelaslah kini, bahwa bentuk dan gaya arsitektur bangunan Gedong Sate
dan Gedong Sirap (Kampus ITB sekarang), tidak terlepas dari imbauan
maestro arsitek H.P. Berlage kepada murid-muridnya, para arsitek
Belanda yang tinggal di Nusantara, untuk berani bereksperimen mencari
harmoni dari sintesa perpaduan teknologi Barat (Eropa) dengan gaya
arsitektur tradisional Nusantara.
Tanggal 30 April 1923, tatkala Dr. Berlage menghadiri perayaan ulang
tahun Princess Juliana di kediaman resmi Residen Priangan (Gedong
Pakuan sekarang), beliau sempat ter-peranjat menyaksikan pawai rakyat
Priangan yang begitu ramai dan meriah. Dari cara perayaan orang pribumi
bagi putri mahkota Kerajaan Belanda itu, Dr. Berlage merasakan ironi
yang mendalam. Sehingga terlontarlah kata-katanya : "Bangsa dan negeri
ini harus mencapai kemerdekaan".
Kini di tahun 1995, tujuh puluh dua tahun semenjak H.P. Berlage
berkunjung ke bumi Nusantara ini, alhamdulillah bangsa Indonesia sedang
menikmati berkah kemerdekaannya, pada usia negeri ini yang ke-50.
(Disadur dari buku “Balai Agung di Kota Bandung”, Ir. Haryoto Kunto, 1996)