GEDUNG SATE

Gedung Sate pada Zaman Kolonial Belanda dikenal dengan nama bangunan
Gouvernements Bedrijven disingkat “GB” atau Pusat Instansi Pemerintahan. Awal
bangunan dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 27 Juli 1920, oleh
Nona Johanna Catherina Coops putri sulung Walikota Bandung B. Coops yang
didampingi Nona Petronella Roeslofsen yang mewakili Gubernur Jenderal di
Batavia. Pada awal tahun 1924 Gedung Hoofdbureau PTT rampung dikerjakan,
disusul dengan selesai dibangunnya Induk Gedung Sate dan Perpustakaan Tehnik
yang paling lengkap di Asia Tenggara, pada bulan September 1942.
Gedung Sate dirancang oleh arsitek Belanda Ir. J. Gerber dari Jawatan
Gedung-gedung Negara (landsgebouwendients), dibantu oleh sebuah tim yang
terdiri dari: Kol. Genie (Purn.) V.L. Slor dari Genie Militair, Ir. E.H. De Roo
dan Ir. G. Hendriks yang mewakili Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W) atau DPU
sekarang dan Gemeentelijk Bouwbedriff (Perusahaan bangunan Kotapraja) Bandung.
Langgam arsitektur Gedung Sate terinspirasi
Pada dinding fasade depan Gedung Sate terdapat ornamen berciri tradisional,
seperti pada bangunan candi-candi Hindu. Sedangkan ditengah-tengah bangunan
induk Gedung Sate, tegak berdiri menara dengan atap bersusun atau yang disebut
“tumpang” seperti Meru di Bali atau atap Pagoda. Bagian atasnya yang menjulang menyerupai
tusukan sate, karenanya secara popular rakyat memberi nama gedung itu “Gedung
Sate”.
Bangunan menjadi unik bentuknya, karena merupakan perpaduan dengan
Maestro Arsitek dari Negeri Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage dalam
kunjungannya ke Kota Bandung pada bulan April 1923, sempat menyatakan bahwa
bangunan Gedung Sate beserta rancangan kompleks Pusat Perkantoran Instansi
Pemerintahan Sipil Hindia Belanda di Bandung itu merupakan sebuah karya besar.
Gedung Sate pada hakekatnya cuma merupakan bagian kecil atau sekita 5% dari
“Kompleks Pusat Perkantoran Insatansi Pemerintah Sipil” Hindia Belanda yang
menempati lahan Bandung Utara seluas 27.000 meter persegi yang disediakan oleh
Gemeente Van Bandoeng lewat Raadbesluit yang disahkan pada tanggal 18 Desember
1929.
Pembangunan Gedung Sate erat kaitannya dengan rencan Pemerintah Kolonial
Belanda di Zaman Gubernur Jenderal J.P. Van Limburg Stirum yang memerintah
antara Tahun 1916-1921 untuk melaksanakan usul H.F. Tillema pada Tahun 1916,
seorang ahli Kesehatan Lingkungan dari Semarang, agar Ibukota Nusantara dalam
hal ini Hindia Belanda dipindahkan dari Batavia atau Jakarta sekarang ke Kota
Bandung.
Sejumlah Instansi atau departemen pemerintahan, dipindahkan dari
Akibat terjadinya resesi ekonomi (malaise) di tahun 1930-an, akhirnya
rencana pemindahan ibukota negara beserta bangunan-banguan pemerintah pusat
dari
Dalam masa perang kemerdekaan Gedung Sate memiliki nilai histories. Pada
tanggal 3 Desember 1945, tujuh orang pemuda pejuang yang mempertahankan
bangunan tersebut gugur melawan Pasukan Ghurka yang datang menyerang. Kini
sebuah monumen peringatan bagi pahlawan yang gugur itu, berdiri tegak di depan
Gedung sate. Sejak tahun 1977, sebuah bangunan besar dengan kontekstual yang
serasi, tegak menyesuaikan bentuk terhadap langgam arsitektur banguanan Gedung
sate, rancangan arsitek Ir. Sudibyo, yang kini berfungsi menjadi gedung DPRD
Propinsi Jawa Barat.
GEDUNG DWI WARNA
Bangunan kuno ini terletak di Jalan Dipanegoro No.59 Bandung yang oleh Bung
Karno (Presiden pertama RI) diberi nama Dwi Warna, setelah Negara Pasundan
bersatu kembali ke Negara kesatuan RI pada tahun 1949. Gedung Dwi Warna ini
juga pernah menjadi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat dan gedung
Sekretariat Konferensi Asia-Afrika.
Setelah selesai Konferensi Asia Afrika, Gedung Dwi Warna menjadi Kantor
Pusat Pensiunan dan Pegawai. Setelah itu menjadi Kantor Pusat Administrasi
Belanja Pegawai yang namanya Sub. Direktorat Pengumpulan Data Seluruh
GEDUNG MERDEKA

Gedung Merdeka merupakan salah satu gedung bersejarah
yang terletak di pusat
Pada mulanya gedung ini merupakan bangunan sederhana yang didirikan pada tahun
1895 dan berfungsi sebagai warung kopi. Seiring dengan makin banyaknya orang
Eropa terutama orang Belanda yang bermukim di kota Bandung, ditambah dengan
semakin meningkatnya kegiatan mereka dalam bidang ekonomi seperti di bidang
perkebunan, industri dan pemerintahan, maka diperlukan tempat untuk rekreasi
yang sesuai dengan budayanya. Kebutuhan rekreasi itu antara lain terpenuhi
dengan adanya gedung tersebut yang sering diperbaharui dan semakin lama makin
diperluas sesuai dengan keperluan.
Pembaharuan secara besar-besaran dilakukan pada tahun 1920 dan 1928,
hasilnya adalah Gedung Merdeka sekarang yang megah bergaya Romawi dan sejumlah
bahan bangunannya (marmer, lampu hias kristal) didatangkan dari Eropa. Arsitek
pembangunan Gedung Merdeka ini adalah Van Gallen last dan C.P. Wolff Shoemaker,
guru besar arsitektur di Technische Hogeschool (THS) yang sekarang menjadi
Institut Teknologi Bandung (ITB). Gedung yang luasnya 7500 m2 ini dikelola oleh
organisasi Sociteit Concordia yang anggota-anggotanya terdiri kalangan elit
Eropa yang bermukim di
Persatuan Sandiwara Braga sering menyewa ruang utama ini. Pada masa
pendudukan militer Jepang (1942-1945) digunakan sebagai Pusat Kebudayaan dengan
sebutan Dai Toa Kaikan. Namun pada kenyataannya hanya dipakai untuk kesenian,
pertemuan dan kegiatan rekreasi lainnya. Pada masa revolusi (1946-1950) pernah
dijadikan markas oleh para pejuang Republik Indonesia, tempat kegiatan
pemerintahan Kota Bandung setelah Kota Bandung di bagi dua: bagian Utara
dibawah kekuasaan Tentara Sekutu dan bagian Selatan dibawah kekuasaan RI dengan
batas jalan kereta api (Desember 1945 - Maret 1946) selain itu juga berfungsi
sebagai gedung tempat rekreasi yang dikelola oleh Sociteit Concordia pada masa
pendudukan tentara Belanda dan pemerintah Haminte Bandung.
Menjelang Konferensi Asia Afrika, gedung ini diambil oleh pemerintah dan
dipersiapkan untuk dijadikan tempat konferensi (1954). Presiden Soekarno
mengganti nama ini dari Sociteit Concordia menjadi Gedung Merdeka, takala
meninjau kesiapan gedung ini sebagai tempat konferensi (17 April 1955). Sejak
24 April 1980 Gedung Merdeka ini juga dijadikan Museum Konferensi Asia Afrika
sebagai acara puncak peringatan ke-25 tahun Konferensi Asia Afrika. Saat ini
dipakai pula sebagai Sekretariat Pusat Penelitian serta Pengkajian Masalah Asia
Afrika dan Negara-negara berkembang yang berada dibawah Departemen Luar
GEDUNG PAKUAN
Gedung Pakuan saat ini merupakan rumah dinas yang dijadikan sebagai tempat
kediaman resmi Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Barat dan berlokasi di
Jalan Otto Iskandardinata No.1
Semenjak zaman kemerdekaan Gedung Pakuan sering menjadi tempat menginap
serta persinggahan para tamu agung, baik pimpinan
Gedung Pakuan memiliki langgam arsitektur Indische Empire Stijl (Gaya Empire
Hindia) yang anggun monumental serta disukai oleh Jenderal Herman Willem
Dandles, dari mulai dibangun pada tahun 1864 sampai selesai pembangunannya pada
tahun 1867. Bangunan tersebut dirancang oleh Insinyur Kepala dari Departement
van Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W) atau DPU sekarang, yang menjadi staff
dari Residen Van der Moore, Insinyur itu pula yang merancang bangunan Sakola
Raja yang saat ini menjadi Kantor Polwiltabes Bandung di Jl. Merdeka Bandung
pada Tahun 1866. Selama pembangunan Gedung Pakuan (1864-1867), telah dikerahkan
sejumlah anggota Genie Militair Belanda, yang dibantu oleh R.A. Wiranatakusumah
yang dikenal dengan sebutan Dalem Bintang. R.A. Wiranatakusumah merupakan
Bupati Bandung ke-8 yang memerintah pada Tahun 1846-1874 beliau mengerahkan penduduk
dari kampung Babakan Bogor atau Kebon Kawung sekarang dan Balubur Hilir yang
kini terletak didepan kediaman resmi Panglima Kodam III Siliwangi Jl.
Wastukancana Bandung sekarang.
Atas jasanya itu penduduk dibebaskan dari pajak, sehingga kampung itu kemudian
disebut Kampung Merdeka Lio. Yang dimaksud dengan Lio dalam Bahasa Cina adalah
genting, dan diproduksi di kampung Balubur Hilir. Adapun urutan para Gubernur
Kepala Daerah Propinsi Jawa Barat yang pernah menempati rumah dinas di Gedung
Pakuan tersebut adalah:
*Mas Sutarjo Kartohadikusumo (Soetarjo Kartohadikoesoema) pada Tahun
1945-1946;
*Mr. Datuk Jamin ( Djamin ) yang memerintah pada Tahun 1946-1947;
*Mas Sewaka pada Tahun 1947-1952;
*R.Sanusi harjadinata pada Tahun 1952-1956;
*R.Ipik Gandamana memerintah pada Tahun 1952-1960;
*Mayjen.H. Mashudi yang memerintah pada Tahun 1960-1965 dan 1965-1970;
*Mayjen Solihin Gautama Purwanegara pada Tahun 1970-1975;
*Mayjen. H.Aang Kunaefi yang memerintah pada Tahun 1975-1980 dan 1980-1985;
*Mayjen.H.Yogie S.Memet pada Tahun 1985-1993;
*Mayjen. R.Nuriana mulai 23 Mei 1993-1998 dan 1998 sampai sekarang yang akan
berakhir tahun 2003 mendatang.
Sejak Jaman Kolonial, Gedung Pakuan telah menjadi tempat persinggahan
orang-orang penting (VIP), tamu resmi, dan tokoh dunia. Tercatat antara lain
Raja Siam Somdet Phra Paramendr Maha Chulalonkorn pada Tahun 1901, Perdana
Menteri Perancis Georgeos Clemenceau yang datang ke Bandung Tahun 1921.
Kemudian juga bintang film Charlie Chaplin dan Mary Picford pada Tahun 1927.
Masih di Tahun 1920-an gitaris kaliber dunia, Andreas Segovia sempat memetik
dawai gitarnya di depan Residen Priangan beserta tamunya.
Ketika Konferensi Asia Afrika berlangsung di kota Bandung pada Tahun 1955,
sejumlah Tokoh, Pimpinan Negara-negara Asia Afrika singgah untuk beristirahat
di Gedung Pakuan, diantaranya: Perdana Menteri (PM) Birma U Nu, PM Srilangka
Sir John Kotelawala, PM Pakistan Moh. Ali, Jendral Carlos P. Rumulo dari
Filipina, Presiden Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Pangeran Norodom Sihanoouk
dari Kamboja, PM RRC Zhou Enlai serta beberapa Pejabat Negara lainnya. Pada
kunjungannya tahun 1955, PM India Jawaharlal Nehru sempat menyatakan dalam
pidatonya, bahwa: “
Sejarah diplomatik mencatat, bahwa pada hari Kamis sore, tanggal 22 April
1955, di ruang tengah Gedung Pakuan telah ditandatangani Komunike bersama
tentang Dwi Kewarganegaraan antara Pemerintah RI dan RRC. Masing-masing pihak
diwakili oleh Menteri Luar Negeri RI Mr. Sunario dan PM Zhou Anlai yang
mewakili RRC. Tokoh pemimpin lainnya yang sempat berkunjung ke Gedung Pakuan
pada tahun 1950-an adalah Presiden Yugoslavia Josep Broz Tito dan kemudian
Presiden Uni Soviet Voroshilov. Selain tiu, diawal tahun 1960-an Jaksa Agung
Amerika Serikat Robert Kennedy juga sempat minum teh di Gedung Pakuan. Dalam
Kunjungan muhibah ke Bandung Tahun 1971 Sri Ratu Belanda Juliana beserta
Pangeran Bernhard sangat terpesona menyatakan kepada tuan rumah, agar bangunan
lama dengan gaya arsitektur Da Indische Empire Stijl yang langka itu dapat
dipertahankan, dipugar dan dilestarikan. Tahun 1990, bangunan Gedung Pakuan
rampung dipugar dengan menelan biaya lebih dari satu milyar rupiah, sesuai
dengan apa yang diharapkan Pangeran Bernhard dan didambakan pula oleh para
konservator, pelestari bangunan-bangunan bersejarah di Kota Bandung. Sehingga
Gedung Pakuan yang berwibawa itu masih tetap berfungsi sebagai landmark atau
ciri visual
GEDUNG YAYASAN PUSAT KEBUDAYAAN (YPK)
Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) berlokasi di Jl. Naripan No.7 Bandung
dan merupakan Gedung pertunjukan kesenian seperti: Wayang Golek, tembang dan
tari tradisional Sunda, Teater, Lomba Seni (atau dalam Bahasa Sunda disebut
Pasanggiri, Pameran Lukisan atau Seni Rupa lainnya). Gedung YPK sering pula
digunakan sebagai tempat latihan kesenian, seminar, kongres, rapat, pertemuan,
diskusi kebudayaan, pesta perpisahan sekolah, bahkan sejak tahun 1980-an, disebabkan
kesulitan keuangan, gedung tersebut disewakan kepada umum untuk pesta
perkawinan atau hajat keluarga.
Pada Zaman Kolonial Belanda, Gedung YPK merupakan Sositet (Balai Pertemuan)
yang bernama Ons Genoegen. Tempat main bilyar, catur, main kartu, sambil makan
minum mendengarkan hiburan musik dari band atau orkes kecil. Di zaman
pergerakan tahun 1930-an, para tokoh politik nasional seperti Bung Karno, dan
yang lain-lainnya sering mengadakan vergadering (rapat) atau ceramah di tempat
ini.
Dalam periode 1950-1980, gedung YPK sempat menjadi pangkalan atau
persinggahan para Budayawan Bandung, seperti Seniman Teater Jim Liem (Jim
Adilimas), Suyatna Anirun dan orang-orang “Studiklub Teater Bandung” (STB);
Sasterawan Ayip Rosidi, Rustandi Kartakusumah, Rahmatullah Ading Affandi (RAF),
dan kawan-kawannya. LBBS berkantor di bangunan induknya. Surat Kabar Warta
Bandung dan Majalah Sunda pernah berkantor disalah satu bagian ruangan
sayapnya. Selain itu, gedung YPK juga dijadikan alamat sekretariat beberapa Perkumpulan
Seni dan Budaya seperti halnya Caraka Sundanologi.
Sumber: Ensiklopedi Sunda
http://www.sundanet.com/artikel.php?id=99