Aboeprijadi Santoso & Lea Pamungkas
31-03-2006
Maret
2006 tepat 60 tahun silam terjadi apa yang disebut “Bandung Lautan
Api”. Peristiwa tersebut menjadi salah satu ode heroik, patriotik
kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat tatar Parahyangan.
Dua nama melekat di dalamnya: Mohamad Toha dan Mohamad Ramdhan. Simak
mitos dan sejarahnya.
Akhirnya ...
Kami bumi hanguskan kota tercinta itu ...
sehingga menjadi lautan api...
Kini batinku kembali mengenang...
udara panas yang bergetar dan
menggelombang...
bau asap, bau keringat...
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki...
langit berwarna kesumba
(Rendra, Sajak Bandung Lautan Api)
Pengakuan kepemimpinan Jakarta
Baik peristiwa Bandung Lautan Api maupun
kepatriotan Mohamad Toha, sejauh ini masih belum diteliti akurasinya.
Mitos atau peristiwa sejarah? Ir. Haryoto Kunto (alm), seorang peneliti
Bandung tempo dulu, meragukan skala kebakaran di Bandung, 24 Maret 1945
itu. Alasannya, tata kota yang populer dengan nama Parijs van Java
itu, tetap cantik dan utuh. Bahkan kemudian dipilih sebagai tempat
berlangsungnya Konperensi Asia Afrika, 1955. Hanya 9 tahun sesudahnya.
“Yang terjadi adalah bagaimana rakyat yang tidak mau ke luar dari kota itu, mau memenuhi perintah dari Jakarta, dari Presiden Soekarno untuk meninggalkan Bandung. Waktu itu kota Bandung memang diancam dibom Sekutu, sehingga harus mundur 11 km dari pusat kota,” jelas Kunto yang terkenal dengan bukunya “Bandung Tempo Doeloe”.
Waktu itu, menurut Kharli Akhbar dan M. Dhayat, anggota Laskar Pemuda, belakangan veteran Siliwangi, tentara Sekutu menarik garis demarkasi. Bandung dibelah dua : Bandung Utara dan Bandung Selatan dengan pemisah rel kereta api. Utara menjadi wilayah tentara Sekutu dan Selatan menjadi bagian tentara pejuang kemerdekaan.
Perintah mundur ini, tentu saja menyakiti para pejuang di lapangan. “Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus. Dan kami tidak rela kembali dijajah. Jadi ketika kami mundur semua rumah dibakar oleh pemiliknya,” jelas Akhbar. “Ini,” menurut Kunto, “menjadi momen penting, pertama kali rakyat mulai mau berdisplin. Juga menjadi penanda pengakuan kepada Jakarta sebagai pusat pemerintahan.”
Misteri Toha
Sementara itu, kisah Mohamad Toha yang
namanya diabadikan sebagai nama jalan dan tugu perjuangan di Bandung
Selatan, sampai hari ini tetap misteri. Kharli Akhbar mengatakan,
menjelang meledaknya gudang senjata di Dayeuhkolot, ada dua pemuda yang
menghilang, yakni Mohamad Toha dan Mohamad Ramdhan. “Yang lain masih
lengkap, ya cuma yang dua itu yang tiba-tiba menghilang. Ya, kalau
begitu siapa lagi ...” ujarnya.
Namun, menurut M. Dhayat, Toha konon membawa dinamit untuk meledakkan gudang senjata itu dan menyelusup ke garis demarkasi ke Dayeuhkolot untuk meledakkan gudang yang dijaga oleh tentara Jepang. “Gudang tersebut tepat persis di depan gedung Belanda. Mendengar hancurnya gudang senjata itu, kami pun jadi semangat dan merasa terpacu untuk merebut kembali Bandung. Komando kami sekarang adalah komando Jihad, biarpun dengan senjata minim,” jelasnya.
Mitos yang terbentuk
Soal bagaimana persisnya peristiwa
meledaknya gudang senjata, serta peran Toha dalam hal ini, Kunto
mengatakan tampaknya perlu diadakan penelitian tentang gugurnya Toha.
“Tapi ketika saya mempermasalahkan itu, dan masih ada saksi,
pimpinan-pimpinan daerah seperti bupati keberatan. Mereka mengatakan
kalau terbukti dia tidak melakukannya, bagaimana dengan nama jalan,
tugu, dan sebagainya..,”jelasnya.
|
Pengungsian |
Betapa pun, peristiwa “Bandung Lautan Api” itu melekat dalam memori kolektif.Saat itulah pertama kali pecah selisih pendapat secara terbuka antara para politisi dan diplomat di Jakarta dan mereka yang bergerak di kancah. Sejak itu pula, Jakarta berkompromi dengan “hijrah” yang historis, yang mengungsikan lasykar lasykar pemuda Indonesia dari Jawa Barat, dengan batas Gombong (Jawa Tengah), ke Yogyakarta. Momentum perjuangan kemudian beralih dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bandung menjadi tonggak sejarah. Juga karena kota ini menjadi kancah percaturan politik cendekia Indonesia. Sam Ratulangi lama bermukim di Bandung masa itu, komponis Cornel Simandjuntak dan Ismail Marzuki berkarya di Bandung dan Harian Sin Po yang pertama kali menyiarkan naskah lagu “Indonesia Raya” diterbitkan di Bandung.
Aboeprijadi Santoso & Lea Pamungkas
31-03-2006
Maret
2006 tepat 60 tahun silam terjadi apa yang disebut “Bandung Lautan
Api”. Peristiwa tersebut menjadi salah satu ode heroik, patriotik
kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat tatar Parahyangan.
Dua nama melekat di dalamnya: Mohamad Toha dan Mohamad Ramdhan. Simak
mitos dan sejarahnya.
Akhirnya ...
Kami bumi hanguskan kota tercinta itu ...
sehingga menjadi lautan api...
Kini batinku kembali mengenang...
udara panas yang bergetar dan
menggelombang...
bau asap, bau keringat...
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki...
langit berwarna kesumba
(Rendra, Sajak Bandung Lautan Api)
Pengakuan kepemimpinan Jakarta
Baik peristiwa Bandung Lautan Api maupun
kepatriotan Mohamad Toha, sejauh ini masih belum diteliti akurasinya.
Mitos atau peristiwa sejarah? Ir. Haryoto Kunto (alm), seorang peneliti
Bandung tempo dulu, meragukan skala kebakaran di Bandung, 24 Maret 1945
itu. Alasannya, tata kota yang populer dengan nama Parijs van Java
itu, tetap cantik dan utuh. Bahkan kemudian dipilih sebagai tempat
berlangsungnya Konperensi Asia Afrika, 1955. Hanya 9 tahun sesudahnya.
“Yang terjadi adalah bagaimana rakyat yang tidak mau ke luar dari kota itu, mau memenuhi perintah dari Jakarta, dari Presiden Soekarno untuk meninggalkan Bandung. Waktu itu kota Bandung memang diancam dibom Sekutu, sehingga harus mundur 11 km dari pusat kota,” jelas Kunto yang terkenal dengan bukunya “Bandung Tempo Doeloe”.
Waktu itu, menurut Kharli Akhbar dan M. Dhayat, anggota Laskar Pemuda, belakangan veteran Siliwangi, tentara Sekutu menarik garis demarkasi. Bandung dibelah dua : Bandung Utara dan Bandung Selatan dengan pemisah rel kereta api. Utara menjadi wilayah tentara Sekutu dan Selatan menjadi bagian tentara pejuang kemerdekaan.
Perintah mundur ini, tentu saja menyakiti para pejuang di lapangan. “Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus. Dan kami tidak rela kembali dijajah. Jadi ketika kami mundur semua rumah dibakar oleh pemiliknya,” jelas Akhbar. “Ini,” menurut Kunto, “menjadi momen penting, pertama kali rakyat mulai mau berdisplin. Juga menjadi penanda pengakuan kepada Jakarta sebagai pusat pemerintahan.”
Misteri Toha
Sementara itu, kisah Mohamad Toha yang
namanya diabadikan sebagai nama jalan dan tugu perjuangan di Bandung
Selatan, sampai hari ini tetap misteri. Kharli Akhbar mengatakan,
menjelang meledaknya gudang senjata di Dayeuhkolot, ada dua pemuda yang
menghilang, yakni Mohamad Toha dan Mohamad Ramdhan. “Yang lain masih
lengkap, ya cuma yang dua itu yang tiba-tiba menghilang. Ya, kalau
begitu siapa lagi ...” ujarnya.
Namun, menurut M. Dhayat, Toha konon membawa dinamit untuk meledakkan gudang senjata itu dan menyelusup ke garis demarkasi ke Dayeuhkolot untuk meledakkan gudang yang dijaga oleh tentara Jepang. “Gudang tersebut tepat persis di depan gedung Belanda. Mendengar hancurnya gudang senjata itu, kami pun jadi semangat dan merasa terpacu untuk merebut kembali Bandung. Komando kami sekarang adalah komando Jihad, biarpun dengan senjata minim,” jelasnya.
Mitos yang terbentuk
Soal bagaimana persisnya peristiwa
meledaknya gudang senjata, serta peran Toha dalam hal ini, Kunto
mengatakan tampaknya perlu diadakan penelitian tentang gugurnya Toha.
“Tapi ketika saya mempermasalahkan itu, dan masih ada saksi,
pimpinan-pimpinan daerah seperti bupati keberatan. Mereka mengatakan
kalau terbukti dia tidak melakukannya, bagaimana dengan nama jalan,
tugu, dan sebagainya..,”jelasnya.
|
Pengungsian |
Betapa pun, peristiwa “Bandung Lautan Api” itu melekat dalam memori kolektif.Saat itulah pertama kali pecah selisih pendapat secara terbuka antara para politisi dan diplomat di Jakarta dan mereka yang bergerak di kancah. Sejak itu pula, Jakarta berkompromi dengan “hijrah” yang historis, yang mengungsikan lasykar lasykar pemuda Indonesia dari Jawa Barat, dengan batas Gombong (Jawa Tengah), ke Yogyakarta. Momentum perjuangan kemudian beralih dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bandung menjadi tonggak sejarah. Juga karena kota ini menjadi kancah percaturan politik cendekia Indonesia. Sam Ratulangi lama bermukim di Bandung masa itu, komponis Cornel Simandjuntak dan Ismail Marzuki berkarya di Bandung dan Harian Sin Po yang pertama kali menyiarkan naskah lagu “Indonesia Raya” diterbitkan di Bandung.
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949.
Usaha untuk meredam kemerdekaan Indonesia dengan jalan kekerasan berakhir dengan kegagalan. Belanda mendapat kecaman keras dari dunia internasional. Terdapat perubahan situasi yang tiba-tiba di Belanda melalui pertemuan yang disebut Konferensi Meja Bundar yang akan memuaskan aspirasi rakyat Indonesia.
Konferensi dibuka di Den Haag tanggal 23 Agustus 1949 untuk mengatur penyerahan kedaulatan Pemerintah Belanda kepada Republik Indonesia dan negara-negara anggota di luar Republik semuanya terwakili dan dibantu Komisi PBB untuk Indonesia. Politik Belanda saat itu akan memberikan kemerdekaan, bukan dengan setengah hati, tetapi seperti dr Van Mook katakan, "dengan maksud baik dan bebas".
Tanggal 2 November 1949 persetujuan tercapai. Tanggal 27 Desember 1949 pemerintahan sementara negara nasional dilantik. Soekarno menjadi Presidennya, dengan Hatta sebagai Perdana Menteri membentuk Kabinet Republik Indonesia Serikat. Indonesia Serikat telah dibentuk seperti republik federasi berdaulat yang terdiri dari 16 negara yang memiliki persamaan persekutuan dengan Kerajaan Belanda.
Hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah: